Berikut adalah usaha saya untuk "menyulap" head lamp yang biasa dipakai untuk camping/hiking menjadi front lamp khusus MTB. Bagi XCer sejati hal ini mungkin hanya jadi bahan tertawaan saja, tapi bagi pelaku "hybrid" seperti saya, maksudnya pengguna MTB yang menggunakan MTB bukan hanya buat XC tapi juga untuk B2W rutin, bersepeda diwaktu jam pulang kantor antara 17.30 - 19.00 (senja) adalah waktu dimana rawan terjadi kecelakaan(tertabrak dari depan) terutama apabila tidak menggunakan front lamp.
Sebenarnya tidak perlu repot me-mutilasi head lamp khusus camping/hiking untuk disulap menjadi front lamp sepeda(MTB). Banyak toko sepeda yang menjual berbagai macam lampu/flashlight khusus sepeda, mudah pula pemasangannya karena sudah dilengkapi klem persis seperti rear reflector yang dipasang pada seatpost. XCer banyak menggunakan benda tersebut untuk NR (Night Ride = Aktivitas XC dimalam hari). Ada beberapa alasan kenapa saya malah menggunakan headlamp untuk diubah menjadi front lamp MTB.
Pertama, penempatan frontlamp. Saya tidak ingin front lamp dipasang pada handle bar.
Kebanyakan front lamp yang dijual ditoko sepeda dipasang pada handle bar dan saya tidak mau direpotkan lagi dengan handle bar yang "rame". Sepasang shifter plus kabel2nya dikiri dan kanan handlebar sudah cukup, ditambah klakson (ya anda tidak salah baca: klakson!) sebesar handphone yang "meramaikan suasana" dipasang persis disebelah kanan stem dan tidak lupa tombol klakson itu sendiri yang dipasang persis disebelah FD shifter yang walaupun cuma seukuran kuku jempol tapi rasanya cukup memakan tempat. Ok, bicara sedikit tentang klakson, saya mengutamakan pemasangan klakson tersebut (bukan bel kubah yang berdering) dengan 5 variasi bunyi yang cukup nyaring sengaja untuk menarik perhatian dan mengagetkan penyeberang jalan yang malas tengok kiri-kanan dan membahayakan diri mereka sendiri dan juga orang lain, ternyata ini berhasil juga menarik perhatian pemakai kendaraan bermotor, terutama pengguna roda empat yang tiba-tiba membuka pintu mobilnya. Memang bunyinya cukup nyaring dan menjengkelkan tapi menurut hemat saya: makin nyaring makin aman bagi semua pihak! hehehe... (saya mempunyai pengalaman membunyikan bel dering untuk menghalau orang dipinggir jalan sampai tombol deringnya patah dan tetap saja orang tersebut tidak mendengarnya, walhasil kedua rem digunakan sekeras-kerasnya agar dia tidak tertabrak sepeda!). So, front lamp buatan saya tidak ditempel pada handlebar melainkan ditempel pada dudukan reflektor yang khusus dipasang untuk front suspension (persis ditengah lengkungan/bentuk U terbalik pada front shock).
Walaupun beberapa produk flashlight khusus sepeda datang dengan kualitas sorot cahaya yang bagus, ukuran diameter headlamp yg besar dengan batok lampunya, (entah reflektor atau apalah namanya bagian yang mengkilap dan memantulkan cahaya) mampu memantulkan 7 led didalamnya dengan lebih efektif apalagi semakin besar diameternya semakin terlihat dari jauh toh.
Ketiga, bagian belakang headlamp datar/rata.
Bidang pada bagian belakang headlamp memang sudah seharusnya datar karena ini bagian yang bersentuhan langsung dengan kepala manusia, dalam hal ini kening (bayangkan kalau bagian ini bentuknya bulat, susah dong pasang dikepalanya hehehe!!). Kondisi ini mempermudah kita untuk melakukan penambahan/instalasi sekrup, baut atau apapun yang diperlukan supaya headlamp bisa menempel pada bagian tertentu dari sepeda atau pada dudukan reflektor sepeda.
Walhasil setelah sedikit survey, pilihan saya jatuh pada headlamp (gambar 1) dengan tali karet pengikat untuk bagian kepala. Lagipula saya tidak usah mengeluarkan uang lagi karena headlamp ini sudah tersedia dirumah, dan headlamp ini sudah setia menemani saya dibeberapa aktivitas hiking jadi benar-benar sudah terbukti keampuhan dan kebandelannya. Bicara tentang hiking, saya mendesain sedemikian rupa sehingga frontlamp itu nantinya masih bisa dipakai kembali untuk aktivitas hiking berikutnya (dan namanya kembali menjadi headlamp, bukan?!).

Ada satu keuntungan yang saya peroleh dengan pemilihan headlamp ini; saya tidak usah melobby "ibu negara" hanya untuk membeli flashlight MTB baru yang relatif lebih mahal dibanding headlamp yang harganya berkisar antara Rp. 20.000 - 35.000 ini. Ok, begitulah ceritanya. Kondisi tertentu terkadang membuat orang jadi kreatif toh, asal jangan sampai mencari cara kreatif dalam membohongi istri untuk upgrade sepeda yak?, hehehe...
Nah sekarang mari kita langsung ke cara-cara pembuatannya sebagai berikut:

atau yang seperti ini:

3. Reflektor tipe ARFS B9 atau sejenisnya (biasanya khusus dipasang pada front suspension). Yang saya pakai ARFS B9 Cateye (Gambar 3 & 4).

Step 2.
Pasang kaki reflektor (gambar 5) tanpa memasang dudukannya (gambar 7) pada front suspension (gambar 6) .

Step 3.
Pisahkan reflektor dari dudukannya (gambar 4) karena posisi reflektor akan digantikan headlamp. (Silahkan simpan reflektornya, karena kalau bosan dengan headlamp bisa dipasang kembali).
Step 4.
Buka cover baterai pada headlamp dan copot semua baterai(gambar 8).
Gambar 8

Step 5.
Buka mur yang mengunci pivot antara lampu dan rumah baterai (gambar 9) kemudian pisahkan lampu dari rumah baterai:

Step 6.
Copot tiga (3) sekrup kecil yang terdapat pada dasar rumah baterai (gambar 10).

Step 7.
Buka bagian belakang rumah baterai dan lubangi bagian belakang/bawah dengan menggunakan cutter sebanyak dua buah (gambar 11).
PERHATIAN: A. Diameter lubang tidak boleh lebih besar dari diameter lubang pada dudukan reflektor dan diameter baut. B. Jarak antara lubang harus presisi sesuai dengan jarak antar lubang pada dudukan reflektor (perhatikan kembali gambar 7).

Step 8.
Setelah pembuatan lubang sesuai, coba masukkan sepasang baut pada lubang yang sudah jadi (gambar 11 & 12).
Sebenarnya tidak perlu repot me-mutilasi head lamp khusus camping/hiking untuk disulap menjadi front lamp sepeda(MTB). Banyak toko sepeda yang menjual berbagai macam lampu/flashlight khusus sepeda, mudah pula pemasangannya karena sudah dilengkapi klem persis seperti rear reflector yang dipasang pada seatpost. XCer banyak menggunakan benda tersebut untuk NR (Night Ride = Aktivitas XC dimalam hari). Ada beberapa alasan kenapa saya malah menggunakan headlamp untuk diubah menjadi front lamp MTB.
Pertama, penempatan frontlamp. Saya tidak ingin front lamp dipasang pada handle bar.
Kebanyakan front lamp yang dijual ditoko sepeda dipasang pada handle bar dan saya tidak mau direpotkan lagi dengan handle bar yang "rame". Sepasang shifter plus kabel2nya dikiri dan kanan handlebar sudah cukup, ditambah klakson (ya anda tidak salah baca: klakson!) sebesar handphone yang "meramaikan suasana" dipasang persis disebelah kanan stem dan tidak lupa tombol klakson itu sendiri yang dipasang persis disebelah FD shifter yang walaupun cuma seukuran kuku jempol tapi rasanya cukup memakan tempat. Ok, bicara sedikit tentang klakson, saya mengutamakan pemasangan klakson tersebut (bukan bel kubah yang berdering) dengan 5 variasi bunyi yang cukup nyaring sengaja untuk menarik perhatian dan mengagetkan penyeberang jalan yang malas tengok kiri-kanan dan membahayakan diri mereka sendiri dan juga orang lain, ternyata ini berhasil juga menarik perhatian pemakai kendaraan bermotor, terutama pengguna roda empat yang tiba-tiba membuka pintu mobilnya. Memang bunyinya cukup nyaring dan menjengkelkan tapi menurut hemat saya: makin nyaring makin aman bagi semua pihak! hehehe... (saya mempunyai pengalaman membunyikan bel dering untuk menghalau orang dipinggir jalan sampai tombol deringnya patah dan tetap saja orang tersebut tidak mendengarnya, walhasil kedua rem digunakan sekeras-kerasnya agar dia tidak tertabrak sepeda!). So, front lamp buatan saya tidak ditempel pada handlebar melainkan ditempel pada dudukan reflektor yang khusus dipasang untuk front suspension (persis ditengah lengkungan/bentuk U terbalik pada front shock).
Kedua, diameter head lamp lebih besar dari flashlight.
Walaupun beberapa produk flashlight khusus sepeda datang dengan kualitas sorot cahaya yang bagus, ukuran diameter headlamp yg besar dengan batok lampunya, (entah reflektor atau apalah namanya bagian yang mengkilap dan memantulkan cahaya) mampu memantulkan 7 led didalamnya dengan lebih efektif apalagi semakin besar diameternya semakin terlihat dari jauh toh.
Ketiga, bagian belakang headlamp datar/rata.
Bidang pada bagian belakang headlamp memang sudah seharusnya datar karena ini bagian yang bersentuhan langsung dengan kepala manusia, dalam hal ini kening (bayangkan kalau bagian ini bentuknya bulat, susah dong pasang dikepalanya hehehe!!). Kondisi ini mempermudah kita untuk melakukan penambahan/instalasi sekrup, baut atau apapun yang diperlukan supaya headlamp bisa menempel pada bagian tertentu dari sepeda atau pada dudukan reflektor sepeda.
Walhasil setelah sedikit survey, pilihan saya jatuh pada headlamp (gambar 1) dengan tali karet pengikat untuk bagian kepala. Lagipula saya tidak usah mengeluarkan uang lagi karena headlamp ini sudah tersedia dirumah, dan headlamp ini sudah setia menemani saya dibeberapa aktivitas hiking jadi benar-benar sudah terbukti keampuhan dan kebandelannya. Bicara tentang hiking, saya mendesain sedemikian rupa sehingga frontlamp itu nantinya masih bisa dipakai kembali untuk aktivitas hiking berikutnya (dan namanya kembali menjadi headlamp, bukan?!).
Gambar 1
Ada satu keuntungan yang saya peroleh dengan pemilihan headlamp ini; saya tidak usah melobby "ibu negara" hanya untuk membeli flashlight MTB baru yang relatif lebih mahal dibanding headlamp yang harganya berkisar antara Rp. 20.000 - 35.000 ini. Ok, begitulah ceritanya. Kondisi tertentu terkadang membuat orang jadi kreatif toh, asal jangan sampai mencari cara kreatif dalam membohongi istri untuk upgrade sepeda yak?, hehehe...
Nah sekarang mari kita langsung ke cara-cara pembuatannya sebagai berikut:
Step 1.
Bahan-bahan yang diperlukan:
1. Headlamp, tentunya.(gambar 1).
Gambar 2a
atau yang seperti ini:
Gambar 2b
3. Reflektor tipe ARFS B9 atau sejenisnya (biasanya khusus dipasang pada front suspension). Yang saya pakai ARFS B9 Cateye (Gambar 3 & 4).
Pasang kaki reflektor (gambar 5) tanpa memasang dudukannya (gambar 7) pada front suspension (gambar 6) .
Gambar 7
Step 3.
Pisahkan reflektor dari dudukannya (gambar 4) karena posisi reflektor akan digantikan headlamp. (Silahkan simpan reflektornya, karena kalau bosan dengan headlamp bisa dipasang kembali).
Step 4.
Buka cover baterai pada headlamp dan copot semua baterai(gambar 8).
Gambar 8
Step 5.
Buka mur yang mengunci pivot antara lampu dan rumah baterai (gambar 9) kemudian pisahkan lampu dari rumah baterai:
Gambar 9
Step 6.
Copot tiga (3) sekrup kecil yang terdapat pada dasar rumah baterai (gambar 10).
Gambar 10
Step 7.
Buka bagian belakang rumah baterai dan lubangi bagian belakang/bawah dengan menggunakan cutter sebanyak dua buah (gambar 11).
PERHATIAN: A. Diameter lubang tidak boleh lebih besar dari diameter lubang pada dudukan reflektor dan diameter baut. B. Jarak antara lubang harus presisi sesuai dengan jarak antar lubang pada dudukan reflektor (perhatikan kembali gambar 7).
Gambar 11
Step 8.
Setelah pembuatan lubang sesuai, coba masukkan sepasang baut pada lubang yang sudah jadi (gambar 11 & 12).
Gambar 11
Gambar 12


gambar 14
Step 11. Pasang dudukan reflektor pada kaki reflektor yang sudah terpasang pada suspension (gambar 15)
Gambar 12
Step 9. Pasang dudukan reflektor disusul oleh pemasangan ring dan terakhir dikencangkan oleh mur (gambar 13).
Gambar 13Step 10. Tutup kembali rumah baterai & sambung kembali pivot antara rumah baterai dengan rumah lampu (Balikkan seluruh proses pada step 4,5 & 6 dengan urutan terbalik 6, 5 & 4). Dan inilah hasilnya (gambar 14):
gambar 14
Step 11. Pasang dudukan reflektor pada kaki reflektor yang sudah terpasang pada suspension (gambar 15)
Gambar 15
Selesai sudah instalasi frontlamp!!
Gambar 16
Gambar 17

Gambar 17
Inilah fungsi pivot pada headlamp (gambar 18), untuk mengatur kemiringan sudut lampu. Akan tetapi, mengingat gravitasi dan goncangan yang pasti timbul dijalanan, pivot lampu pasti akan sering terbuka, karena itu sebaiknya pivot berada pada bagian atas (pada gambar berada dibawah) sehingga lampu menekuk keatas (seperti huruf V terbalik). Caranya, buka dudukannya terus balikkan posisi dudukan kemudian kencangkan bautnya. Selesai.
Gambar 18